Indramayu – Masyarakat Desa Rajaiyang, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, hingga kini masih menjaga dan melestarikan tradisi leluhur yang dikenal dengan nama Mapag Tamba . Tradisi ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat agraris Indramayu yang terkait erat dengan siklus pertanian dan kehidupan sosial warga.

Dalam bahasa setempat, Mapag Tamba berarti menyambut atau menerima obat (tamba), yang dimaknai sebagai bentuk permohonan doa dan harapan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan keselamatan, kesehatan, serta kesuburan tanah sebelum memasuki musim tanam. Tradisi ini juga menjadi momentum kebersamaan warga dalam mempererat tali silaturahmi dan gotong royong di tengah kehidupan pedesaan.

Pelaksanaan Mapag Tamba biasanya dilakukan di daerah persawahan dengan dipimpin oleh tokoh adat atau sesepuh desa. Warga berkumpul bersama, mengenakan pakaian khas hitam-hitam sebagai simbol kesederhanaan dan kekuatan, serta melakukan prosesi doa bersama. Tak jarang pula disertai dengan sajian doa keselamatan dan simbol-simbol budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kepala Desa Rajaiyang menuturkan bahwa Mapag Tamba bukan hanya sekedar ritual, melainkan juga menjadi sarana untuk menjaga kelestarian budaya lokal yang diwariskan nenek moyang. “Tradisi ini harus terus dijaga agar generasi muda mengenal akar budaya mereka sendiri. Selain sebagai ucapan terima kasih, Mapag Tamba juga menjadi identitas masyarakat Indramayu, khususnya di Losarang,” ungkapnya.

Dengan terus dilestarikan, Mapag Tamba tidak hanya menjadi ritual adat, melainkan juga bagian dari kekayaan budaya nusantara yang memperkuat jati diri bangsa di tengah arus modernisasi.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *